Canangkan Desa Wisata Bahasa: Sekelompok Mahasiswa UM Metro Antusias Ikuti Pembekalan

970px x 250px.

Canangkan Desa Wisata Bahasa: Sekelompok Mahasiswa UM Metro Antusias Ikuti Pembekalan

Redaksi
Thursday, 4 July 2019

Pembekalan mahasiswa FKIP oleh Yasmika Baihaqi, M. Pd.BI 


Tapisnews.com-Kampus | Rabu (3/7) pukul 08.00, sekelompok mahasiswa Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan UM Metro ikuti pembekalan program pengabdian masyarakat. Acara berlangsung di ruang 1.6 Gd. E, kampus setempat.

Menurut laporan Nadhea Zaintika, salah satu mahasiswa yang terlibat dalam program tersebut menyebut sesi pembekalan disapaikan oleh tiga dosen di Universitas Muhammadiyah Metro.

"Pembekalan pagi tadi disampaikan Swaditya Rizky, M.Sc., Eva Faliyanti, M.Pd., dan Yasmika Baihaqi, M. Pd.BI., ketiganya merupakan dosen UM Metro," terangnya.

Lebih jauh Dhea, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa program yang direncanakan oleh kelompok pengabdiannya akan fokus mewujudkan Desa Wisata Bahasa. Lokasi yang dipilih berada di Desa Banjarejo, Batang Hari, Lampung Timur.

"Ini merupakan suatu gebrakan, dimana kelompok mahasiswa FKIP UM Metro antusias mewujudkan Desa Wisata Bahasa di Banjarejo, Batanghari, Lampung Timur," ungkap Dhea.



Gb. Kelompok mahasiswa FKIP UM Metro ikuti pembekalan sebelum terjun ke masyarakat

Hal senada turut diungkap Yasmika Baihaki, M.Pd.BI., Desa Wisata Bahasa yang dicanangan nantinya akan melibatkan mahasiswa, pemuda dan unsur masyarakat yang ada di lokasi pengabdian.

“Desa Wisata Bahasa akan sama-sama diwujudkan, kami melibatkan tiga unsur, bukan hanya mahasiswa saja tapi pemuda dan masyarakat juga turut andil dalam mewujudkan wisata bahasa ini,” jelas dosen Pendidikan Bahasa Inggris UM Metro itu.

Belajar dari desa-desa wisata yang sudah ada dan cukup sukses menyedot perhatian masyarakat, Desa Wisata Bahasa yang sedang digagas ini harapannya mampu menyedot masyakarat untuk mendapatkan edukasi sekaligus wisata didalamnya.

Tentunya selain menitik beratkan pada edukasi bahasa Inggris, tidak menutup kemungkinan adanya edukasi bahasa lainnya.

“Kenapa menggunakan kata wisata? bagaimana kemudian orang tertarik datang ke lokasi tersebut bukan karena bahasanya saja tapi juga ada wisatanya. Jadi wisata harus ditampilkan, seperti spot foto, spot bermain, kuliner dan lain-lainnya. Bahkan, kalau bisa nantinya ada bahasa lain selain bahasa Inggris.” tambah Yasmika Baihaqi,M.Pd.BI.



Kotributor: Nadhea Zaintika, Mahasiswa Pendidikan Matematika UM Metro (2016).
Editor: Redaksi